Media sensoris pada dasarnya adalah perpanjangan dari alat indra manusia yang memungkinkan kita untuk menangkap informasi dari dunia luar. Dalam konteks komunikasi, media sensoris merujuk pada bagaimana teknologi atau sarana komunikasi tertentu menekankan penggunaan indra spesifik, seperti penglihatan (visual) atau pendengaran (auditori). Ketika manusia berinteraksi dengan sebuah media, terjadi penyesuaian rasio sensoris dalam otak kita. Misalnya, budaya lisan sangat menekankan indra pendengaran, yang menciptakan cara berpikir yang bersifat linear dan kolektif, berbeda dengan budaya tulisan yang mendominasi indra penglihatan.
Konsep media sebagai "perpanjangan manusia" (extension of man) menjelaskan bahwa setiap teknologi yang kita ciptakan sebenarnya adalah perluasan dari fungsi biologis atau psikologis kita. Radio adalah perpanjangan dari telinga, televisi adalah perpanjangan dari mata dan telinga, dan internet merupakan perpanjangan dari sistem saraf pusat manusia. Secara sensoris, setiap media baru mengubah cara kita merasakan ruang dan waktu. Perubahan ini tidak bersifat pasif; ia secara aktif membentuk kembali cara kita memproses realitas dan berinteraksi satu sama lain secara fundamental.
Di sisi lain, terdapat dimensi institusional manusia yang berperan sebagai struktur pengatur dari penggunaan media tersebut. Institusional manusia merujuk pada tatanan sosial, norma, hukum, dan organisasi yang lahir akibat keberadaan media. Media tidak bekerja di ruang hampa; ia dilembagakan dalam bentuk institusi pendidikan, pemerintahan, hingga industri media itu sendiri. Institusi ini berfungsi untuk menstandarisasi bagaimana informasi disebarkan dan dikonsumsi, sehingga menciptakan stabilitas dalam kehidupan bermasyarakat yang kompleks.
Hubungan antara media sensoris dan institusi menciptakan apa yang disebut dengan lingkungan simbolik. Ketika sebuah media sensoris baru muncul, ia sering kali merombak institusi yang sudah ada. Sebagai contoh, penemuan mesin cetak (media visual) merombak institusi agama dan pendidikan di Eropa, karena pengetahuan tidak lagi dimonopoli oleh segelintir orang lewat tradisi lisan. Institusi kemudian beradaptasi dengan menciptakan kurikulum berbasis teks, hukum hak cipta, dan sistem perpustakaan, yang semuanya merupakan produk dari dominasi sensoris visual.
Memahami sisi institusional juga berarti memahami kekuasaan. Media bukan sekadar alat, melainkan lingkungan yang mengontrol skala dan bentuk asosiasi serta tindakan manusia. Secara institusional, media menentukan siapa yang memiliki akses terhadap informasi dan siapa yang berhak berbicara. Dalam era digital saat ini, institusi baru seperti platform media sosial telah mengubah cara manusia berorganisasi secara politik dan sosial, menggeser peran institusi tradisional seperti partai politik atau media massa konvensional yang lebih lambat dalam merespons rangsangan sensoris instan.
Secara mendalam, interaksi antara indra (sensoris) dan struktur sosial (institusional) membentuk identitas manusia. Kita bukan hanya pengguna media, melainkan produk dari media yang kita gunakan. Jika media sensoris kita didominasi oleh layar digital yang cepat, maka institusi manusia akan bergerak ke arah yang lebih cair dan tidak terbatas oleh sekat fisik. Hal ini menciptakan tantangan baru bagi psikologi manusia, di mana rasio sensoris kita dipaksa bekerja lebih cepat daripada kemampuan institusi untuk memberikan perlindungan atau regulasi yang memadai.
Ketidakseimbangan antara kecepatan perkembangan media sensoris dan kesiapan institusional sering kali menimbulkan gegar budaya. Fenomena disinformasi atau hoaks, misalnya, terjadi karena media sensoris (internet) menyebarkan informasi secepat kilat, sementara institusi hukum dan pendidikan masih menggunakan pola lama dalam memverifikasi kebenaran. Oleh karena itu, sinkronisasi antara peningkatan literasi sensoris individu dan penguatan institusi kolektif menjadi kunci utama agar teknologi tetap berfungsi sebagai alat pembebasan, bukan alat kontrol.
Sebagai simpulan, media sensoris dan institusional manusia adalah dua sisi dari koin yang sama dalam memahami peradaban. Media sensoris menyediakan bahan baku berupa persepsi indrawi, sedangkan institusi menyediakan wadah dan aturan mainnya. Tanpa pemahaman mendalam tentang keduanya, kita akan terjebak dalam determinisme teknologi, di mana kita merasa dikendalikan oleh alat ciptaan kita sendiri. Menyeimbangkan persepsi indra dengan struktur sosial yang sehat adalah tugas berkelanjutan manusia di setiap era teknologi.
0 Komentar