Iklan atas - New

Simbol Pesan Komunikasi Non Verbal


Simbol Pesan Komunikasi Non Verbal
Dalam buku Silent Message (1971), Albert Mehrabian dalam Liliweri (2008), mengemukakan bahwa manusia berkomunikasi secara verbal dan non verbal. Bila dibandingkan prosentase penggunaan pesan, maka 93% dari perilaku komunikasi menggunakan pesan simbol non verbal, sisanya 7% menggunakan pesan verbal. Morris (1997) dalam Liliweri (2008), membagi pesan non verbal sebagai berikut:
1.    Kinesik
Kinesik adalah pesan non verbal yang diimplementasikan dalam bentuk bahasa isyarat tubuh atau anggota tubuh. Dalam pengalihan informasi mengenai kesehatan, para penyuluh tidak hanya menggunakan kata-kata secara verbal tetapi juga memperkuat pesan-pesan itu dengan bahasa isyarat untuk mengatakan suatu penyakit berbahaya, obat yang mujarab, cara mengaduk obat dan lain sebagainya.
  Beberapa jenis dari kinesik atau bentuk isyarat tubuh antara lain adalah:
1)  Gestures, merupakan bahasa isyarat yang ditampilkan oleh gerakan anggota tubuh. Seseorang komunikator kesehatan mungkin memaksudkan acungan jempol ke bawah artinya kegagalan dan lain sebagainya (Liliweri, 2008,p. 109)
2)  Ekspresi Wajah, banyak orang memahami informasi dari orang lain hanya karena mereka memandang ekspresi wajah orang itu. Di dunia, tercatat sekurang-kurangnya 30.000 lebih ekspresi wajah yang berbeda satu sama lain. Banyak di antaranya yang mempunyai makna yang sama namun banyak pula yang berbeda. Suatu senyuman dapat berarti senang, namun mungkin pula berarti sinis. Jadi, tanggapan itu tergantung dari pandangan kebudayaan (Liliweri, 2008,p. 109-110)
3)   Bersalaman atau hand shake, merupakan sesuatu yang lazim dilakukan ketika bertemu seseorang. Perbedaan budaya dari audiens akan memberikan makna yang berbeda atas salaman itu. Misalnya saja, orang Sunda, tidak mengenal salam hangat dengan hand shake  atau jabat tangan erat, tetapi hanya dengan menyentuh ujung-ujung jari ke pihak lain. Sementara orang Norwegia, biasanya berjabat tangan hanya dalam situasi-situasi formal atau untuk menunjukkan rasa hormat (Liliweri, 2008, p.110)
4)   Kontak Mata; merupakan simbol non verbal yang sangat penting dalam beberapa kebudayaan namun tidak begitu penting bagi kebudayaan lain. Misalnya, penyuluhan kesehatan yang dilakukan di pedesaan NTT, maka perlu diingat bahwa komunikan lebih suka mendengarkan sambi lmelakukan kontak mata. Hal ini berbeda dengan orang jawa yang lebih mengutamakan telinga untuk mendengar daripada mata untuk menatap komunikator (Liliweri, 2008, p.110-111)
2. Proksemik
Ruang lingkup bahasa non verbal berikutnya adalah proksemik, yaitu bahasa non verbal yang ditunjukkan oleh “ruang” dan “jarak” antara individu dengan orang lain ketika berkomunikasi atau antara individu dengan objek (Liliweri, 2008, p.110-111)
Proksemik ini sendiri terbagi menjadi tiga, yaitu:
a.    Proksemik Jarak; merupakan bahasa jarak sebagai simbol komunikasi yang paling sensitif. Umumnya, jarak fisik dengan orang lain menunjukkan pula kedekatan sosial dan psikologis dengan lawan bicara. Misalnya, jarak intim, jarak pribadi, jarak sosial, dan jarak publik. Makin dekat jarak fisik seseorang ketika berkomunikasi, maka lawan bicara tersebut dianggap makin dekat secara psikologis maupun sosial dengan si pembicara, begitu pula sebaliknya (Liliweri, 2008, p. 111)
b.    Proksemik Ruang; dalam kasus proksemik ruang, berikut beberapa contoh dimana kita dapat menginterpretasikan makna terhadapnya, yakni:
a)  Ukuran ruang
b)  Hawa atau udara dalam ruang
c)   Warna
d)  Pencahayaan
e)   Jangkauan ruang
c.    Proksemik Waktu; kronemik merupakan penggunaan waktu untuk berkomunikasi secara non verbal. Sebagaimana biasa para bawahan harus menunggu kedatangan pemimpin atau dalam pertemuan, bawahan diharuskan tiba mendahului atasan mereka. Waktu menggambarkan sebuah peristiwa yang dapat memberikan makna tertentu, maksud dan tujuan tertentu.
3. Haptik
Haptik sering kali disebut zero proxemics, artinya tidak ada lagi jarak di antara dua orang ketika berkomunikasi. Atas dasar itulah maka ada ahli komunikasi non verbal yang mengatakan haptik itu sama dengan menepuk-nepuk, meraba-raba, memegang, mengelus dan mencubit. Haptik mengomunikasikan relasi anda dengan seseorang. Liliweri (2008) menjelaskan bahwa, Haptik ditentukan oleh tiga faktor berikut:
a.    Derajat atraksi dan kesukaan.
Anda lebih cenderung atau suka memegang seseorang atau suatu objek yang Anda sukai, Anda pun lebih suka memegang atau mengambil suatu barang yang menarik. Sebaliknya, Anda akan menjauhkan diri dari objek atau orang yang tidak disukai atau yang tidak menarik.
b.    Derajat kekeluargaan/ kekerabatan
Anda juga lebih sering menghiraukan jarak fisik dengan seseorang yang sangat dekat dengan Anda, yang dianggap sebagai anggota keluarga atau sahabat karib. Karena kedekatan psikologis itulah, maka Anda lebih berani mencubit, menepuk lengan dan bahu, mencium dahi atau pipi.
c.    Kekuasaan dan status.
Haptik juga ditentukan oleh faktor kekuasaan dan status, misalnya hubungan antara atasan dan bawahan. Mereka yang tergolong pada kelompok atasan sering menghindari diri dari pegangan bawahannya.
4.    Paralinguistik
Paralinguistik meliputi setiap penggunaan suara sehingga bermanfaat jika hendak menginterpretasikan simbol verbal. Sebagai contoh, orang-orang Muang Thai merupakan orang yang rendah hati, mirip dengan orang Jawa yang tidak mengungkapkan kemarahan dengan suara yang keras. Mengeritik orang lain biasanya tidak diungkapkan secara langsung tetapi dengan anekdot. Ini berbeda dengan orang batak dan Timor yang mengungkapkan segala sesuatu dengan suara keras (Liliweri, 2008, p. 114)
5. Artifak
Artifak disini tidak dimaksudkan dengan artifak dalam studi arkeologi. Kita memahami artifak dalam komunikasi non verbal dengan berbagai benda material di sekitar kita, lalu bagaimana cara benda-benda itu digunakan untuk menampilkan pesan tatkala dipergunakan. Sepeda motor, mobil, kulkas, pakaian, televisi, komputer mungkin sekedar benda. Namun dalam situasi sosial tertentu, benda-benda itu memberikan pesan kepada orang lain. Status sosial seseorang dapat diduga dari pakaian atau mobil yang mereka gunakan. Makin mahal mobil yang mereka pakai, maka makin tinggi status sosial orang itu (Liliweri, 2008, p. 114)
6. Logo dan Warna
Logo berasal dari Bahasa Yunani yaitu Logos , yang berarti kata, pikiran, pembicaraan, akal budi. Logo diartikan sebagai tulisan nama identitas yang didesain secara khusus dengan menggunakan teknik lettering atau memakai jenis huruf tertentu. (Rustan, 2009).
Logo adalah sebuah tanda, simbol atau lambang berupa gambar, tulisan atau gambar yang dipergunakan sebagai identitas dari sebuah perusahaan,organisasi dan lembaga untuk mengkomunikasikan citra dan karakteristik perusahaan organisasi dan lembaga tersebut. Logo merupakan gambar atau simbol yang didalamnya terdapat pesan atau makna tentang karakateristik visi dan misi serta bidang usaha dari sebuah perusahaan, organsisasi atau lembaga yang digunakan sebagai identitas sebuah perusahaan.
Kreasi para perancang untuk menciptakan logo dalam penyuluhan merupakan karya komunikasi bisnis, namun model kerja ini dapat ditiru dalam komunikasi kesehatan. Biasanya logo dirancang untuk dijadikan simbol dari suatu karya organisasi atau produk dari suatu organisasi, terutama bagi organisasi swasta. Bentuk logo umumnya berukuran kecil dengan pilihan bentuk, warna dan huruf yang mengandung visi dan misi organisasi.
Liliweri (2008), menjelaskan ada beberapa unsur yang patut diperhatikan ketika menciptakan logo, yaitu:
a.    Penggunaan warna; warna berkaitan dengan budaya audiens. Oleh karena itu, jika memilih warna yang sala, hal tersebut memengaruhi penerimaan pesan oleh audiens.
b.    Ukuran; pada mulanya digunakan untuk kartu nama (business card), oleh karena itu ukuran logo yang paling besar hanya sebesar kartu nama.
c.    Multimedia; kini dengan teknologi komputer, maka perancang pesan dapat dilakukan semakin mudah, apalagi menggunakan software seperti Corral atau untuk kepentingan presentasi bahan menggunakan software Power Point.
d.   Animasi; animasi merupakan proses kerja perancang untuk membuat variasi-variasi atas simbol atau logo
Menurut Kamus Bahasa Indonesia, warna adalah kesan yang diperoleh mata dari cahaya yang dipantulkan oleh benda-benda yang dikenainya. Pengertian warna menurut  Newton adalah bagian sinar dalam spektrum yang tergantung pada gelombang cahayanya. Menurut Eiseman (2000) warna merupakan bentuk komunikasi non verbal yang berfungsi sebagai metode penyampaian pesan dan makna yang paling instan atau menghasilkan pengaruh dengan seketika. Secara objektif atau fisik, warna adalah sifat cahaya yang dipancarkan sementara secara subjektif atau psikologis, warna adalah sebagian pengalaman indera penglihatan.    
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa warna adalah kesan yang diperoleh mata dari cahaya yang dipantulkan oleh benda-benda yang dikenainya. Warna hanya dapat dilihat karena adanya cahaya. Saat mata menangkap warna yang sebenarnya terlihat adalah pantulan cahaya dari sebuah benda yang kemudian diterima atau ditangkap mata.
Warna berkaitan dengan budaya audiens. Oleh karena itu jika kita mendesain suatu logo atau sesuatu maka kita harus memperhatikan warna karena jika kita memilih warna yang salah maka hal itu akan mempengaruhi penerimaan pesan oleh audiens/ komunikan. Dalam masyarakat kita pada umunya, warna hitam diidentikkan dengan suasana berkabung (kecuali orang cina, warna kedukaan  mereka adalah warna putih), warna ungu menjadi simbol penantian dan harapan, warna putih diasosiasikan dengan bersih atau ketulusan, warna merah dikaitkan dengan keberanian dan warna kuning dihubungkan dengan perilaku cemburu. Penggunaan warna  juga sangat penting untuk diperhatikan karena warna berkaitan dengan gender atau jenis kelamin, warna berkaitan dengan kepribadian dan warna berkaitan dengan faktor-faktor psikologis dll.
Psikologi warna adalah suatu hal yang terbentuk dalam diri manusia ketika melihat warna tertentu. Dari sisi psikologi, warna memiliki dampak yang kuat terhadap emosi dan mood manusia dan merupakan aspek yang mempengaruhi penampilan visual suatu ruang. Telah dibuktikan bahwa kebanyakan orang mempunyai reaksi yang hampir sama terhadap warna.
7. Tampilan Fisik Tubuh
    Seringkali Anda mempunyai kesan tertentu terhadap tampilan fisik tubuh dari lawan bicara. Kita sering menilai seseorang mulai dari warna kulitnya, tipe tubuh (atletis, kurus, ceking, bungkuk, gemuk, gendut dan lain-lain). Tipe tubuh ini merupakan cap atau warna yang diberikan kepada orang itu. Salah satu keutamaan pesan atau informasi kesehatan adalah persuasif, artinya bagaimana kita merancang pesan sedemikian rupa sehingga mampu memengaruhi orang lain agar mereka dapat mengetahui informasi, menikmati informasi, memutuskan untuk membeli atau menolak produk bisnis yang disebarluaskan oleh sumber informasi (Liliweri, 2008, p. 116)

Posting Komentar

0 Komentar