Memahami dan
Memakai Pesan Verbal dalam Komunikasi Kesehatan
Kalau kita bicara tentang komunikasi
verbal maka terkandung pula didalamnya pengertian pesan-pesan verbal atau pesan
berupa kata-kata yang diucapkan (vokal), di tulis (visual). Konsep komunikasi
verbal ini tidak bisa dilepaskan dari ilmu bahasa atau linguistik. Dalam
praktiknya, cara manusia berkomunikasi melalui bahasa yang secara formal
dilakukan melalui bahasa lisan dan tulisan. (Liliweri, 2007; 117)
a. Penggunaan bahasa secara pragmatis
Kita memang mengakui bahasa
indonesia sebagai bahasa pemersatu, oleh karena itu kita mempelajari bahasa
Indonesia sejak masih duduk di SD sampai ke perguruan tinggi. Ketika kita
menggunakan bahasa sebagai “alat komunikasi”, haruslah disadari bahwa ada
perbedaan penggunaan bahasa tulisan dan bahasa lisan. Perbedaan itu menampak
pada aspek “kepraktisan” semata-mata. Artinya, orang tidak terbiasa berbahasa
lisan dengan mengikuti semua aturan tata bahasa Indonesia. Bagi kita, dalam
komunikasi adalah membuat orang lain cepat mengerti yang dalam istilah
komunikasi, memberikan makna yang sama atas apa yang sama atas apa yang kita
ucapkan. Inilah aspek pragmatis suatu bahasa. (Liliweri, 2007; 118)
Seorang komunikator kesehatan
hendaklah memerhatikan kebiasaan dan kepraktisan bahasa di kalangan ibu-ibu
desa yang berkunjung ke Puskesmas, bapak-bapak nelayan di pantai, para gadis di
pasar umum, orang-orang yang berada dalam perjalanan, dan lain-lain.
Kadang-kadang kelompok-kelompok ini menggunakan “jargon” secara khusus yang
hanya dimengerti oleh kalangan mereka. (Liliweri, 2007; 118)
b. Ingat variasi berbahasa
Menurut Liliweri (2007;
116-120)dalam berkomunikasi kesehatan, apalagi dalam situasi antar budaya,
hendaklah kita memperhatikan beberapa variasi berbahasa yang bersumber pada:
1) Dialok
Dialek merupakan variasi penggunaan
bahasa di suatu daerah bahasa. Orang Timor yang tinggal di Timur Tengah
Utara (TTU), Timor Tengah Selatan (TTS) dan sebagian Kabupaten Kupang (Amfoang,
Amarasi) memakai bahasa Dawan namun terdapat variasi penggunaan bahasa di antar
berbagai daerah yang berbeda-beda itu. Demikian pula orang Jawa yang tinggal di
Jawa Timur berbeda dialek jawanya dengan Jawa dari Solo. Hal ini karena di
masing-masing “daerah” pengguna bahasa mempunyai dialek untuk menerangkan kata
tau istilah lokal.
2) Aksen
Aksen menunjukkan kekhasan tekanan
dalam ucapan bahasa lisan. Meskipun semua orang Timor memakai bahasa Dawan, di
antara pengguna bahasa Dawan sendiri dapat membedakan asal usul pembicara
berdasarkan aksen Amarasi, aksen Amfoang, aksen Soe, dan aksen Kefa. Atas
alasan yang sama yang sama kita bisa membedakan aksen orang Jawa dari Surabaya
dengan orang Jawa dari Semarang atau dari Yogyakarta.
3) Jargon
Jargon adalah sebuah unit kata-kata
atau istilah yang dipertukarkan oleh mereka yang sama profesi atau
pengalamannya. Perhatikan ada istilah-istilah tertentu yang hanya beredar di
kalangan ibu rumah tangga, di kalangan nelayan, atau dikalangan dosen dan
mahasiswa. Istilah SKS hanya dimengerti di kalangan dosen dan mahasiswa
(baca: 50 menit). Contoh, ketika akan memberikan pengarahan kepada ibu-ibu di
Puskesmas, seorang teman bertanya kepada Anda: berapa lama Anda bicara? Anda
menjawab: ya kira-kira 1 SKS (para ibu tidak mengerti 1 SKS, hanya Andadsn
teman Anda yang tahu lama pembicaraan 50 menit).
4) Argot
Argot adalah bahasa khusus yang
digunakan oleh suatu kelompok tertentu untuk mendefenisiskan batas-batas
kelompok mereka dengan orang lain. Di kalangan anak-anak sering menggunakan
bahasa khusus yang hanya dimengerti di kalangan mereka. Contoh: Kapan saya bisa
datang ke rumah kamu?
c. Berbahasa pada saat
yang tepat
Menurut Liliweri (2007; 120-123)
dalam berkomunikasi, terutama dalam situasi antar budaya, ada beberapa
perbedaan yang perlu diperhatikan. Menurut Ohoiwutun (1997;99-107) dalam
Liliweri (2007; 120-123) anda harus memperhatikan:
1) Kapan orang berbicara
Jika kita berkomunikasi antarbudaya
perlu diperhatikan bahwa ada kebiasaan (habits) budaya yang mengajarkan
kepatutan kapan seseorang harus atau boleh berbicara. Orang-orang Timor,
Batak,Sulawesi,Ambon,Irian, mewarisi sikap kapan saja bisa bicara, tanpa membedakan
yang tua dan muda, artinya semaunya saja, berbicara tidak mengenal batas usia.
Namun orang Jawa dan Sunda mengenal aturan atau kebiasaan kapan orang
berbicara, misalnya yang lebih muda mendengarkan lebih banyak daripada yang
tua, yang tua omong lebih banyak dari yang muda.
2) Apa yang dikatakan
Laporan studi Eades
(1982)menungkapkan bahwa orang-orang Aborigin Australia tidak pernah mengajukan
pertanyaan mengapa ‘mengapa’? Suzanne Scolon (1982) mendapati orang indian
Athabaska jarang bertanya. Terdapat anggapan bahwa pertanyaan dianggap terlalu
keras, karena menuntut jawaban. Dari sisi pendidikan orang akan bertanya-tanya,
apakah mungkin orang dapat belajar bila mereka tidak diperkenankan bertanya?
Guna menghindari bertanya yang dianggap terlalu keras maka ada kebiasaan dalam
masyarakat tertentu yang menempuh strategi ‘bercerita’. Laporan penelitian
Tannen (1984-an) menunjukkan bahwa orang-orang New York keturunan Yahudi lebih
cenderung bercerita dibandingkan dengan teman-temannya di California. Cerita
mereka (New York Yahudi) selalu berkaitan dengan pengalaman dan perasaan
pribadi. Masing-masing anggota kelompok kurang tertarik pada isi cerita yang
dikemukakan anggota kelompok lain.
3) Kecepatan dan jeda
berbicara
Yang dimaksudkan dengan kecepatan dan jeda berbicara
di sini adalah pengaturan kendali berbicara menyangkut tingkat kecepatan dan
‘istirahat sejenak’ dalam berkomunikasi antara dua pihak. Orang-orang di Barat
sulit berdiam diri terlalu lama dan hanya mendengarkan orang lain. Di
Indonesia, kita semua yang menjadi bawahan selalu berdiam diri di depan atasan,
hanya mendengarkan pengarahan dan perintah.
4) Hal yang perlu diperhatikan
Konsep ini berkaitan erat dengan gaze atau
pandangan mata yang diperkenankan waktu berbicara bersama-sama. Orang-orang
kulit hitam biasanya berbicara sambil menatap mata dan wajah orang lain, hal
yang sama terjadi bagi orang Batak dan Timor. Dalam berkomunikasi
‘memperhatikan’ adalah melihat bukan sekedar mendengarkan. Sebaliknya Orang
Jawa tidak mementingkan ‘melihat’ tetapi mendengarkan. Anda membayangkan jika
seorang Jawa sedang berbicara dengan orang Timor yang terus-menerus menatap
mata orang Jawa, maka si Jawa akan merasa tidak enak dan bahkan menilai orang
Timor itu kurang ajar. Sebaliknya orang Timor merasa dilecehkan karena si Jawa
tidak melihat dia waktu dia memberikan pengarahan.
5) Intonasi
Masalah intonasi cukup berpengaruh dalam pelbagai
bahasa yang berbeda budaya. Orang Kedang di Lembata/Flores memakai kata bua berarti
melahirkan, namun kata yang sama kalau ditekan pada huruf akhir ‘a’ – bua’
(buaq), berarti berlayar.
6) Gaya kaku atau puitis
Ohoiwutun (1997; 105) menulis, jika
Anda membandingkan bahasa Indonesia yang digunakan pada awal berdirinya negara
ini dengan gaya yang dipakai dewasa ini, dekade 90-an, Anda akanmendapati bahwa
bahasa Indonesia tahun 1950-an lebih kaku. Gaya bahasa sekarang lebih dinamis,
lebih banyak kata dan frase dengan makna ganda, tergantung dari konteksnya.
Perbedaan ini terjadi sebagai akibat dari perkembangan bahasa. Tahun 1950-an
bahasa Indonesia hanya dipengaruhi secara dominan oleh bahasa Melayu.
7) Bahasa tidak langsung
Setiap bahasa mengajarkan kepada
para penuturnya mekanisme untuk menyatakan sesuatu secara langsung atau tidak
langsung. Jika Anda berhadapan dengan orang Timor, Anda tidak biasanya
berbicara secara langsung namun didahului oleh basa basi dan bahsa simbolik.
Ini jelas berbeda kalau Anda berbicara dengan orang Flores atau orang Rote di
Kupang.
d. Struktur pesan
Menurut Liliweri (2007; 123-125) struktur
pesan ditunjukkan dengan :
1) Pola penyimpulan (tersirat
atau tersurat)
Banyak anak terserang campak (PK,
Rabu 4 November 2004)
Gejalanya:
a) Panas 2-3 hari
berturut-turut
b) Muncul ruam-ruam merah di
balik telinga
c) Timbul batuk, pilek,
dan mencret
d) Bagian kulit yang ruam-ruam
mengelupas
e) Timbul bintik-bintik
hitam pada kulit yang mengelupas
2) Pola urutan argumentasi
(mana yang lebih dahulu)
Argumentasi yang disenangi
(disampaikan terlebih dahulu) misalnya, Anda hendak mengadakan penyuluhan
tetntang usaha mencegah anak-anak mencret karena makan makanan atau penganan
yang tidak bersih. Anda bisa menampilkan pada pamflet foto anak-anak yang riang
gembira bersama kawan-kawannya berebutan membeli jajan di suatu kios di
bilangan daerah kumuh. Beberapa foto berikutnya anda yang dimulai dari
anak-anak memasukkan jajan ke mulut, proses pengolahan dalam perut… sampai
terakhir potret anak yang mulai sakit perut dan terus-menerus ke WC dan
akhirnya dibawa ke UGD dalam keadaan pucat pasi.
Argumentasi yang tidak disenangi
(disampaikan terlebih dahulu), dalam model ini anda menampilkan terlebih dahulu
wajah seorang anak yang pucat pasi terbaring tidak berdaya di UGD…sampai
menampilkan alur cerita pertama.
3) Pola objektivitas (satu
sisi atau dua sisi)
Satu sisi – Pesan yang terlihat dari
dua contoh argument di atas sebenarnya berpola SATU SISI karena Anda mengambil
anak sebagai pusat informasi kesehatan.
Dua sisi – Alur satu sisi di atas
dapat diubah menjadi dua sisi karena Anda menampilkan pula potret seorang
dokter atau perawat yang mengingatkan beberapa pesan mengenai pencegahan
penyakit mencret.
e. Gaya Pesan (bahasa)
Gaya pesan menunjukkan variasi
linguistic dalam penyampaian pesan dengan perulangan, mudah mengerti, dan
perbendaharaan kata (Liliweri, 2007; hal.125)
1) Perulangan
Perulangan pesan adalah pengungkapan
suatu pesan berkali-kali dalam satuan waktu untuk mengesankan kepada audiens
bahwa apa yang disampaikan sangat penting. Contoh: “Saya ingatkan untuk
mencegah demam berdarah lakukan 3M, sekali lagi 3M, 3M, jangan lupa 3M”.
2) Mudah dimengerti
Suatu pesan yang baik adalah pesan
yang menggunakan pilihan kata yang mudah dimengerti, atau jangan menimbulkan
tafsir ganda. Contoh: apabila kata ruam-ruam kurang dipahami, sehingga
sebaiknya gunakan kata bintil-bintil.
3) Perbendaharaan kata
Yang dimaksudkan dengan
perberdaharaan kata adalah kata-kata yang lazim digunakan oleh audiens
sehari-hari. Contoh: kata ruam-ruam (jika digunakan dalam bahasa tulisan
maka hendaklah diterangkan dalam kurang).
e. Daya Tarik Pesan
Yang dimaksudkan dengan daya tarik
pesan (message appeals) mengacu pada motif-motif psikologis yang
dikandung pesan, yakni rasional-emosional, fear appeals (gaya tarik
ketakutan), dan reward appeals (daya tarik ganjaran). (Liliweri, 2007;
129-131)
1) Rasional – Emosional
Rasional adalah rancangan pesan yang menjelaskan suatu
informasi secara rasional sesuai dengan syarat-syarat yang seharusnya, misalnya
syarat ilmu kesehatan, dll. Contoh: “Karena penyakit ini disebabkan oleh virus
maka tidak bias diobati. Penyakit ini akan sembuh sendiri yang dalam istilah
medis disebut self limited disease, yang bisa dilakukan terhadap
penyakit ini adalah melakukan pengobatan sesuai gejala-gejala penyakit. Misalnya,
ketika penderita mengalami batuk, diberi obat batuk, begitu pula penderita
pilek atau diare.”
Emosional adalah rancangan pesan yang menjelaskan
suatu informasi secara emosional serta menggugah emosi audiens. Contoh: merokok
dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan
dan janin; jika bapak tetap merokok, berarti bapak mau bunuh diri. Itu kan
kasian anak-anak dan istri, apalagi kalau bapak jadi impoten, maka rumah tangga
bapak bakal tidak bahagia!
2) Fear Appeals (daya
tarik ketakutan)
Untuk memengaruhi audiens, maka sebaiknya sampaikan
pesan atau informasi yang kurang menyenangkan kemudian baru diikuti dengan
menampilkan pesan atau informasi yang menyenangkan. Daya tarik pesan yang
menampilkan ketakutan rupanya lebih ditakutkan daripada pesan yang tidak
menakutkan. Fear appeals menampilkan daya tarik tertentu apalagi jika
ketakutan itu berkaitan dengan nyawa manusia.
Atas pertimbangan itu maka dalam penyuluhan kesehatan
yang ausiensnya (adalah manusia-manusia super sibuk) mempercayakan anak-anak
mereka kepada para pembantu perlu ditampilkan kasus-kasus bagaimana hubunghan
pembantu dengan anak-anak ketika orang tua tidak berada di rumah. Hal ini akan
mendorong para orang tua sibuk untuk lebih meluangkan lebih banyak waktu
memperhatikan anak-anaknya daripada kepada para pembantu.
3) Reward Appeals (daya
tarik ganjaran)
Ada banyak sekali cara untuk menciptakan daya tarik
bagi para pembeli untuk membeli makanan atau minuman sehat. Semua pasta gigi
memberikan iming-iming bagi pembeli dengan hadiah uang jutaan rupiah setelah
mengumpulkan sejumlah tertentu bungkus pasta gigi. Jadi, orang dipersuasi untuk
membeli produk bukan karena dia butuh produk tersebut tetapi karena dia ingin
mendapatkan hadiah karena membeli produk itu.
0 Komentar