Iklan atas - New

Makalah gizi kesehatan masyarakat anemia gizi besi



1.        Pengertian, prevalensi dan Indikator Anemia gizi besi
Anemia adalah suatu keadaan penurunan kadar haemoglobin hemotrokit dan jumlah eritrosit dibawah nilai normal. (Kemenkes RI, 2013)
Anemia adalah suatu keadaan tubuh yang ditandai dengan defisiensi pada ukuran dan jumlah eritrosit atau pada kadar haemoglobin yang tidak mencukupi untuk fungsi pertukaran O2 dan CO2 diantara jaringan dan darah. Pada penderita anemia, lebih sering disebut kurang darah, kadar sel darah merah (hemoglobin atau Hb) dibawah nilai normal. Penyebabnya bisa karena kurangnya zat gizi untuk pembentukan darah, misalnya zat besi, asam folat dan vitamin B12, tetapi yang sering terjadi karena kekurangan zat besi. Anemia difisiensi besi dan protein dari makanan, adanya gangguan absorbsi diusus, perdarahan akut maupun kronis dan meningkatnya kebutuhan zat besi seperti pada wanita hamil, masa pertumbuhan dan masa penyembuhan dari penyakit. (Kemenkes RI, 2013)
Menurut (Sudargo, Kusmayanti, & Hidayati, 2018) Jenis-Jenis Anemia yaitu antara lain:
a.         Anemia Defisiensi Zat Besi
Anemia akibat kekurangan zat besi. Zat besi merupakan bagian dari molekul hemoglobin. Kurangnya zat besi dalam tubuh bisa disebabkan karena banyak hal. Kurangnya zat besi pada orang dewasa hampir selalu disebabkan karena perdarahan menahun, berulang-ulang yang bisa berasal dari semua bagian tubuh.
b.         Anemia Defisiensi Vitamin C
Anemia yang disebabkan karena kekurangan vitamin C yang berat  dalam jangka waktu lama. Penyebab kekurangan vitamin C adalah kurangnya asupan vitamin C dalam makanan sehari-hari. Vitamin C banyak ditemukan pada cabai hijau, jeruk, lemon, strawberry, tomat, brokoli, lobak hijau, dan sayuran hijau lainnya, serta semangka. Salah satu fungsi vitamin C adalah membantu penyerapan zat besi.


c.         Anemia Makrositik
Anemia yang disebabkan karena kekurangan vitamin B12 atau asam folat yang diperlukan dalam proses pembentukan dan pematangan sel darah merah, granulosit, dan platelet. Kekurangan vitamin B12 dapat terjadi karena berbagai hal, salah satunya adalah karena kegagalan usus untuk menyerap vitamin B12 dengan optimal.
d.        Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik terjadi apabila sel darah merah dihancurkan lebih cepat dari normal. Penyebabnya kemungkinan karena keturunan atau karena salah satu dari beberapa penyakit, termasuk leukemia dan kanker lainnya, fungsi limpa yang tidak normal, gangguan kekebalan, dan hipertensi berat.
e.         Anemia Sel Sabit
Yaitu suatu penyakit keturunan yang ditandai dengan sel darah merah yang berbentuk sabit, kaku, dan anemia hemolitik kronik. Anemia sel sabit merupakan penyakit genetik yang resesif, artinya seseorang harus mewarisi dua gen pembawa penyakit ini dari kedua orang tuanya. Gejala utama penderita anemia sel sabit adalah:
1.        Kurang energi dan sesak nafas
2.         Mengalami penyakit kuning (kulit dan mata berwarna kuning),
3.        Serangan sakit akut pada tulang dada atau daerah perut akibat  tersumbatnya pembuluh darah kapiler.
f.          Anemia Aplastik
Terjadi apabila sumsum tulang terganggu, dimana sumsum merupakan tempat pembuatan sel darah merah (eritrosit), sel darah, putih (leukosit), maupun trombosit.
Wanita tersebut termasuk anemia apa?
Anemia banyak terjadi pada masyarakat terutama pada remaja dan ibu hamil. Anemia pada remaja putri sampai saat ini masih cukup tinggi, menurut World Health Organization (WHO) (2013), prevalensi anemia dunia berkisar 40-88%. Jumlah penduduk usia remaja (10-19 tahun) di Indonesia sebesar 26,2% yang terdiri dari 50,9% laki-laki dan 49,1% perempuan. Di kutip dalam (Kemenkes RI, 2013)
Rujukan cut-off point anemia balita 12-59 bulan adalah kadar Hb dibawah 11,0 g/dL. Anak sekolah usia 6-12 tahun dianggap mengalami anemia bila kadar Hbnya <12,0 g/dL. Di pihak lain, ibu hamil dianggap sebagai salah satu kelompok yang rentan mengalami anemia, meskipun jenis anemia pada kehamilan umumnya bersifat ‘fisiologis’. Anemia tersebut terjadi karena peningkatan volume plasma yang berakibat pengenceran kadar Hb tanpa perubahan bentuk sel darah merah. Ibu hamil dianggap mengalami anemia bila kadar Hb-nya di bawah 11,0 g/dL. Sementara itu, laki-laki berusia ≥15 tahun dianggap mengalami anemia bila kadar Hb <13,0 g/dL dan wanita usia subur 15-49 tahun mengalami anemia bila kadar Hb <12,0 g/dL. (Riskesdes, 2013)
Menurut data hasil Riskesdas tahun 2013, prevalensi anemia di Indonesia yaitu 21,7% dengan penderita anemia berumur 5-14 tahun sebesar 26,4% dan 18,4% penderita berumur 15-24 tahun. Data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2012 menyatakan bahwa prevalensi anemia pada balita sebesar 40,5%, ibu hamil sebesar 50,5%, ibu nifas sebesar 45,1%, remaja putri usia 10-18 tahun sebesar 57,1% dan usia 19-45 tahun sebesar 39,5%. Wanita mempunyai risiko terkena anemia paling tinggi terutama pada remaja putri. Dikutip dalam (Kemenkes RI, 2013)
Secara umum tingginya prevalensi anemia disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya rendahnya asupan zat besi dan zat gizi lainnya seperti vitamin A, C, folat, riboplafin dan B12 untuk mencukupi kebutuhan zat besi dalam seharinya bisa dilakukan dengan mengkonsumsi sumber makanan hewani sebagai salah satu sumber zat besi yang mudah diserap, mengkonsumsi sumber makanan nabati yang merupakan sumber zat besi yang tinggi tetapi sulit diserap. (Kasdu, 2004)
Proporsi penduduk umur ≥1 tahun dengan keadaan anemia mencapai 21,7 persen secara nasional. Berdasarkan pengelompokan umur, didapatkan bahwa anemia pada balita cukup tinggi, yaitu 28,1 persen dan cenderung menurun pada kelompok umur anak sekolah, remaja sampai dewasa muda (34 tahun), tetapi cenderung meningkat kembali pada kelompok umur yang lebih tinggi. Berdasarkan jenis kelamin didapatkan bahwa proporsi anemia pada perempuan lebih tinggi dibandingkan pada laki-laki. Jika dibandingkan berdasarkan tempat tinggal didapatkan bahwa anemia di perdesaan lebih tinggi dibandingkan dengan perkotaan. (Riskesdes, 2013)
Anemia gizi besi adalah kekurangan kadar haemoglobin (Hb) dalam darah yang disebabkan kekurangan zat, yaitu besi/Fe untuk pembentukan Hb. Standar Hemoglobin pada masing-masing kelompok umur dapat dilihat pada tabel:

Sumber: Gibson (2005) dikutip dalam (Sudargo et al., 2018)
Kekurangan besi terjadi melalui tiga tahap. Tahap pertama terjadi bila simpangan besi berkurang, yang terlihat dari penurunan ferritin dalam plasma hingga <10 ug/l. besi dalam serum menurun hingga <60 ug/dl. Salah satu indicator kelebihan besi ialah bila besi dalam serum >175 ug/dl. Pada tahap ini belum terlihat perubahan fungsonal pada tubuh dapat dilihat pada tabel Ambang batas untuk defisiensi besi:

Sumber: Gibson (2005); Gropper dkk (2005) dikutip dalam (Sudargo et al., 2018)
Menurut (Riskesdes, 2013) Indikator Anemia Gizi besi yaitu antara lain:
1.      Kategori tingkat keparahan pada anemia:
a.         Kadar Hbgr - 8 gr disebut anemia ringan
b.        Kadar Hb 8 gr – 5 gr disebut anemia sedang
c.         Kadar Hb kurang dari 5 gr disebut anemia berat
2.    Kategori tingkat keparahan pada anemia yang bersumber dari WHO adalah sebagai berikut:
a.         Kadar Hb 11 gr% tidak anemia
b.         Kadar Hb 9-10 gr % anemia ringan
c.         Kadar Hb 7-8 gr% anemia sedang
d.        Kadar Hb < 7 gr% anemia berat
3.      Kategori tingkat keparahan anemia adalah sebagai berikut:
a.         Kadar Hb < 10 gr% disebut anemia ringan
b.         Kadar Hb 7-8 gr% disebut anemia sedang
c.         Kadar Hb < 6gr% disebut anemia berat
d.        Kadar Hb normal pada ibu nifas adalah 11-12 gr %
Batasan Anemia secara induvidu berdasarkan kadar hemoglobin (Hb) yang diperiksa  per 100 gram mililiter(mL)  atau gram per desiliter (dL) adalah:
a.         Anak pra sekolah                  : Hb 11 (gr/dL)
b.         Anak sekolah                        : Hb 12 (gr/dL)
c.         Laki-laki dewasa                   : Hb 13 (gr/dL)
d.        Perempuan dewasa               : Hb 12 (gr/dL)
e.         Ibu hamil                               : Hb 11 (gr/dL)
f.          Ibu menyusui                        : Hb 12 (gr/dL)
Menurut (Riskesdes, 2013). Adapun Klasifikasi Prevalensi kadar hemoglobin  untuk penentuan status anemia dalam suatu kelompok umur (masyarakat) yang  ada di suatu wilayah dan  dalam jangka waktu tertentu per konstanta 100 individu untuk menyatakan prevalensinya adalah :
a.         < 15 %**   dikatakan mempunyai Prevalensi rendah dan diinterpretasikan sebagai kelompok masyarakat yang tidak bermasalah dengan anemia gizi
b.         15 – 40%  dikatakan mempunyai Prevalensi sedang dan diinterpretasikan sebagai kelompok masyarakat yang mempunyai  Masalah (ringan – sedang) dengan anemia gizi.
c.         > 40%   dikatakan mempunyai Prevalensi tinggi dan diinterpretasikan sebagai kelompok masyarakat  yang mempunyai masalah berat dengan anemia gizi.
good
2.        Gambaran Klinis Anemia gizi besi
Gejala klinis anemia yaitu Anemis pada lidah, kaku,telapak tangan,atau lipatan palmar, Mengantuk, Lekas marah, Malaise Pada keadaan lanjut akan ada gejala yaitu Kelemahan, Takipnea, Sesak napas saat beraktivitas, Takikardi, Mumur sistolik, Dilatasi jantung dan Gagal jantung. (Abdulsalam & Daniel, 2002)
Menurut (Sudargo et al., 2018) Gejala klinis yang umum terjadi yaitu pucat pada ADB dengan kadar 6-10 g/dl terjadi mekanisme kompensasi yang efektif sehingga gejala anemia hanya ringan saja. Bila kadar  Hb turun < g/dl gejala iritabel dan anoreksia akan mulai tampak lebih jelas. Bila anemia terus berlanjut dapat terjadi takikardi, dilatasi jantung dan murmur sistolik Gejala lain yang terjadi adalah kelainan non hematologi :
1.      Perubahan apitel yang menimbilkan gejala koilonikia (bentuk kuku konkaf), atrofi  papilla lidah dan perubahan mukosa lambung dan usus halus
2.      Intoleransi terhadap latihan: penurunan aktivitas kerja dan daya tahan tubuh
3.      Thermogenesis yang tidak normal
4.      Daya tahan terhadap infeksi menurun
Gejala yang dialami oleh penderita anemia yaitu Mudah letih apabila melakukan aktivitas fisik atau mental, Nafas pendek, Pusing dan berkunang-kunang, Tidak nafsu makan, Wajah terlihat pucat, Detak jantung tidak beraturan, Tangan dan kaki terasa dingin dan Sulit berkonsentrasi. (Abdulsalam & Daniel, 2002)
Penyebab umum dari anemia yaitu Pendarahan hebat, Akut (mendadak), Kecelakaan saat melakukan aktivitas, Pembedahan, Persalinan, Pecah pembulu darah, Kronik atau menahun, Perdarahan hidung, Wasir (hemoroid), Ulkus peptikum, Kanker atau polip di saluran pencernaan, Tumor ginjal kandung kemih dan Perdarahan menstruasi yang sangat beresiko. (Nan & Sicincin, 2011)dikutip dalam
3.        Implikasi Anemia
Menurut (Tarwoto, 2010) penyebab anemia adalah:
a.    Pada umumnya masyarakat Indonesia (termasuk remaja putri) lebih banyak mengkonsumsi makanan nabati yang kandungan zat besinya sedikit, dibandingkan dengan makanan hewani, sehingga kebutuhan tubuh akan zat besi tidak terpenuhi
b.    Remaja putri biasanya ingin tampil langsing, sehingga membatasi asupan makanan
c.    Setiap hari manusia kehilangan zat besi 0,6 mg yang diekskresi, khusunya melalui feses (tinja)
d.   Remaja putri mengalami haid setiap bulan, di mana kehilangan zat besi ±1,3 mg per hari, sehingga kebutuhan zat besi lebih banyak dari pada pria.
Menurut (Anie Kurniawan, 1998), pada dasarnya gejala anemia timbul karena dua hal berikut ini:
a.       Anoksia organ target karena berkurangnya jumlah oksigenyang dapat dibawa oleh darah kejaringan.
b.      Mekanisme kompensasi tubuh terhadap Anemia.
Menurut (Anie Kurniawan, 1998), Anemia Gizi Besi dapat terjadi karena:
a.       Kandungan zat besi dari makanan yang di konsumsi tidak mencukupi kebutuhan
1.         Makanan yang kaya akan kandungan zat besi adalah: makanan yang berasal dari hewani (seperti ikan, daging, hati, ayam).
2.         Makanan nabati (dari tumbuh-tumbuhan) misalnya sayuran hijau tua, yang walaupun kaya akan zat besi, namun hanya sedikit yang bisa diserap dengan baik oleh usus.
b.      Meningkatnya kebutuhan tubuh akan zat besi
1.         Pada masa pertumbuhan seperti anak-anak dan remaja, kebutuhan tubuh akan zat besi meningkat tajam.
2.         Pada masa hamil kebutuhan zat besi meningkat karena zat besi diperlukan untuk pertumbuhan janin serta untuk kebutuhan ibu sendiri.
3.         Pada penderita menahun seperti TBC.
c.         Meningkatnya pengeluaran zat besi dari tubuh. Perdarahan atau kehilangan darah dapat menyebabkan anemia. Hal ini terjadi pada penderita:
1.        Kecacingan (terutama cacing tambang), infeksi cacing tambang menyebabkan perdarahan pada dinding usus, meskipun sedikit tetapi terjadi terus menerus yang mengakibatkan hilangnya darah atau zat besi.
2.        Malaria pada penderita Anemia Gizi Besi, dapat memperberat keadaan anemianya.
Dampak anemia Menurut (Anie Kurniawan, 1998), dampak anemia pada remaja putri ialah:
a.         Menurunkan kemampuan dan konsentrasi belajar.
b.         Mengganggu pertumbuhan sehingga tinggi badan tidak mencapai optimal.
c.         Menurunkan kemampuan fisik olahragawati.
d.        Mengakibatkan muka pucat.
Menurut Reksodiputro (2004) yang dikutip oleh (Tarwoto, 2010), komplikasi dari anemia yaitu: Gagal jantung kongesif; Parestesia; Konfusi kanker; Penyakit ginjal; Gondok; Gangguan pembentukan heme; Penyakit infeksi kuman; Thalasemia; Kelainan jantung; Rematoid; Meningitis; Gangguan sistem imun.
Menurut Moore (1997) yang dikutip oleh (Tarwoto, 2010), dampak anemia pada remaja adalah:
a.       Menurunnya produktivitas ataupun kemampuan akademis di sekolah, karena tidak adanya gairah belajar dan konsentrasi
b.      Mengganggu pertumbuhan di mana tinggi dan berat badan menjadi tidak sempurna
c.       Daya tahan tubuh akan menurun sehingga mudah terserang penyakit.
Dampak pada negara????
4.        Pencegahan dan penanggulangan Anemia Gizi Besi di Indonesia
Menurut (Tarwoto, 2010), upaya-upaya untuk mencegah anemia, antara lain sebagai berikut:
a.         Makan makanan yang mengandung zat besi dari bahan hewani (daging, ikan, ayam, hati, dan telur); dan dari bahan nabati (sayuran yang berwarna hijau tua, kacang-kacangan, dan tempe).
b.         Banyak makan makanan sumber vitamin c yang bermanfaat untuk meningkatkan penyerapan zat besi, misalnya: jambu, jeruk, tomat, dan nanas.
c.         Minum 1 tablet penambah darah setiap hari, khususnya saat mengalami haid.
d.        Bila merasakan adanya tanda dan gejala anemia, segera konsultasikan ke dokter untuk dicari penyebabnya dan diberikan pengobatan.
Menurut (Anie Kurniawan, 1998), mencegah anemia dengan:
a.       Makan-makanan yang banyak mengandung zat besi dari bahan makanan hewani (daging, ikan, ayam, hati, telur) dan bahan makanan nabati (sayuran berwarna hijau tua, kacang-kacangan, tempe).
b.      Makan sayur-sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung vitamin C (daun katuk, daun singkong, bayam jambu, tomat, jeruk dan nanas) sangat bermanfaat untuk
c.       meningkatkan penyerapan zat besi dalam usus
d.      Menambah pemasukan zat besi kedalam tubuh dengan minum Tablet Tambah Darah (TTD)
Menurut (Bidasari, Rina, Gunadi, Nelly, & Elvi, 2008)Tindakan penting yang dilakukan untuk mencegah kekurangan besi antara lain:
a.    Konseling untuk membantu memilih bahan makanan dengan kadar besi yang cukup secara rutin pada usia remaja.
b.    Meningkatkan konsumsi besi dari sumber hewani seperti daging, ikan, unggas, makanan laut disertai minum sari buah yang mengandung vitamin C (asam askorbat) untuk meningkatkan absorbsi besi dan menghindari atau mengurangi minum kopi, teh, teh es, minuman ringan yang mengandung karbonat dan minum susu pada saat makan.
c.    Suplementasi besi. Merupakan cara untuk menanggulangi ADB di daerah dengan prevalensi tinggi. Pemberian suplementasi besi pada remaja dosis 1 mg/KgBB/hari.
d.   Untuk meningkatkan absorbsi besi, sebaiknya suplementasi besi tidak diberi bersama susu, kopi, teh, minuman ringan yang mengandung karbonat, multivitamin yang mengandung phosphate dan kalsium.
e.    Skrining anemia. Pemeriksaan hemoglobin dan hematokrit masih merupakan pilihan untuk skrining anemia defisiensi besi.
Penanggulangan anemia gizi besi yang telah dilakukan meliputi suplementasi besi dan fortifikasi besi pada beberapa bahan makanan, serta upaya lain yang dilakukan ialah peningkatan konsumsi makanan sumber zat besi. (Sudargo et al., 2018) dikutip dalam
Keuntungan fortifikasi besi ialah bahwa zat besi dapat mencapai sasaran untuk semua golongan umur. Penanggulangan anemia gizi besi yang terpenting ialah dengan memperhatikan pola makan, yaitu menerapkan pola makan yang baik  dan bergizi seimbang. Dalam memilih makanan sumber zat besi, selain memperhatikan jumlahnya yang terdapat dalam makanan,  juga memperhatikan daya serap dan nilai biologisnya. Daya serap dan nilai biologis makanan dipengaruhi oleh 4 hal, yaitu jumlah kandungan zat besi, bentuk kimia fisik zat besi, serta cara pengelohan makanan. (Soekirman, 2000) dikutip dalam (Sudargo et al., 2018)

Studi kasus
Di suatu kota, seorang perempuan berusia 20 tahun BB: 42 dan TB:157, sedang menjalani proses perkuliahan di suatu kampus, ia adalah seorang mahasiswa yang aktif di organisasi, aktifitas yang padat membuat pola makannya tidak teratur bahkan terkadang hanya makan mie instan untuk memenuhi laparnya, untuk sarapan saja, dia hanya sempat minum segelas teh, selain itu ia jarang tidur karena mengerjakan tugas menumpuk di malam hari ditemani segelas kopi atau coklat hangat. Sejak pagi tadi wajah dan tangannya pucat, sebelum berangkat kampus dia mengeluhkan sakit kepala, mudah mengantuk, apabila ia berdiri tiba-tiba maka penglihatannya akan hitam dan berkunang-kunang, dan akhirnya ia pingsan di kelas. Setelah diperiksa ternyata kadar Hbnya 8 gr/dl dan kadar ferritin serumnya 10 mg/L.
1.        Wanita tersebut termasuk dalam jenis anemia apa? Gejala klinis apa yang di tunjukan pada wanita tersebut?
·         Wanita tersebut terkena Jenis anemia akibat kekurangan zat besi
Anemia jenis ini merupakan yang paling umum terjadi di seluruh dunia. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan tubuh mengalami anemia dikarenakan sumsum tulang membutuhkan zat besi untuk membuat sel darah. Anemia dapat terjadi pada wanita remaja yang berusia 20 tahun yang tidak mengonsumsi suplemen penambah zat besi. Anemia juga dapat terjadi pada perdarahan menstruasi yang banyak, tukak organ (luka), kanker, dan penggunaan obat pereda nyeri seperti aspirin.
Pada Standar Hemoglobin pada masing-masing kelompok umur untuk wanita subur apabila <11 gr/dl akan menyebabkan anemia gizi besi
·         Gejala klinisnya berupa mengeluhkan sakit kepala, mudah mengantuk, apabila ia berdiri tiba-tiba maka penglihatannya akan hitam dan berkunang-kunang, dan akhirnya ia pingsan.
·         Gejala klinis Wintrobe mengemukakan bahwa manifestasi klinis dari anemia defisiensi besi sangat bervariasi, bisa hampir tanpa gejala, bisa juga gejala-gejala penyakit dasarnya yang menonjol, ataupun bisa ditemukan gejala anemia bersama-sama dengan gejala penyakit dasarnya. Gejala-gejala dapat berupa kepala pusing, palpitasi, berkunang-kunang, perubahan jaringan epitel kuku, gangguan sistem neurumuskular, lesu, lemah, lelah, disphagia dan pembesaran kelenjar limpa. Pada umumnya sudah disepakati bahwa bila kadar hemoglobin < 7 gr/dl maka gejala-gejala dan tanda-tanda anemia akan jelas.
2.        Apakah indikator yang menunjukan mahasiswa tersebut menderita anemia, bagaimana perbedaan dengan yang normal?
·         Dengan melihat indicator bahwa mahasiswa tersebut mengalami anemia ringan
Nilai ambang batas yang digunakan untuk menentukan status anemia ibu hamil, didasarkan pada criteria WHO tahun 1972 yang ditetapkan dalam 3 kategori, yaitu normal (≥11 gr/dl), anemia ringan (8-11 g/dl), dan anemia berat (kurang dari 8 g/dl). Berdasarkan hasil pemeriksaan darah ternyata rata-rata kadar hemoglobin ibu hamil adalah sebesar 11.28 mg/dl, kadar hemoglobin terendah 7.63 mg/dl dan tertinggi 14.00 mg/dl.Untuk menentukan apakah seseorang menderita anemia atau tidak, umumnya digunakan nilai-nilai batas normal yang tercantum dalam SK Menkes RI No.
736a/Menkes/XI/1989, yaitu :
·      Hb laki-laki dewasa : >13 g/dl
·      Hb perempuan dewasa : >12 g/dl
·      Hb anak-anak : >11 g/dl
·      Hb ibu hamil : >11 g/dl
3.        Apakah dampak anemia tersebut bagi wanita itu dan bagi negara?
                Anemia pada remaja dapat berdampak pada menurunnya produktivitas kerja terutama pada wanita. Wanita lebih rawan anemia gizi karena wanita mengalami menstruasi tiap bulan. pertumbuhan terhambat, tubuh mudah terinfeksi, mengakibatkan kebugaran tubuh berkurang, semangat belajar dan prestasi menurun. Maka pada saat akan menjadi calon ibu dimasa yang akan datang maka akan menjadi calon ibu yang beresiko tinggi untuk kehamilan dan melahirkan, dampak anemia pada ibu hamil diantaranya perdarahan waktu melahirkan sehingga dapat menyebabkan kematian ibu. (Sulistyoningsih, 2011)
Kurangnya zat besi menyebabkan cepat lelah dan lesu sehingga kapasitas kerja berkurang dan akhirnya produktivitas kerja menurun yang akan berdampak lebih jauh pada berkurangnya upah yang diterima sehingga menyebabkan rendahnya tingkat ekonomi. Penelitian yang pernah diadakan untuk melihat sejauh mana pengaruh anemia gizi besi terhadap produktivitas kerja. Anemia pada remaja dapat menyebabkan keterlambatan pertumbuhan fisik, gangguan perilaku serta emosional. Hal ini dapat mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan sel otak sehingga dapat menimbulkan daya tahan tubuh menurun. (Abdulsalam & Daniel, 2002)
Kemampuan akademis disekolah atau dikampus juga akan menurun, karena tidak adanya gairah belajar dan konsentrasi belajar. Anemia gizi besi juga dapat mengganggu pertumbuhan dimana tinggi dan berat badan menjadi tidak sempurna, menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah terserang penyakit. Berdasarkan siklus daur hidup, anemia gizi besi pada saat remaja akan berpengaruh besar pada saat kehamilan dan persalinan, yaitu terjadinya abortus, melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah, mengalami penyulit lahirnya bayi karena rahim tidak mampu berkontraksi dengan baik serta risiko terjadinya perdarahan  pasca persalinan yang menyebabkan kematian maternal (Tarwoto, 2010)
Dampak AGB, yaitu penurunan efisiensi biaya Pendidikan sehingga pemulihan anak anemia ke posisi yang normal akan memerlukan biaya yang sangat besar. Defisiensi besi pada anak-anak dapat menggangu kemampuan kognitif sepanjang hidupnya.
4.        Bagaimana prevalensi anemia di Indonesia dan di Sulawesi Tengah? Apakah masuk masalah kesehatan masyarakat berat atau tidak?
·           Menurut data hasil Riskesdas tahun 2013, prevalensi anemia di Indonesia yaitu 21,7% dengan penderita anemia berumur 5-14 tahun sebesar 26,4% dan 18,4% penderita berumur 15-24 tahun. Data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2012 menyatakan bahwa prevalensi anemia pada balita sebesar 40,5%, ibu hamil sebesar 50,5%, ibu nifas sebesar 45,1%, remaja putri usia 10-18 tahun sebesar 57,1% dan usia 19-45 tahun sebesar 39,5%. Wanita mempunyai risiko terkena anemia paling tinggi terutama pada remaja putri. Dikutip dalam (Kemenkes RI, 2013)
·           Prevalensi anemia di Sulawesi tengah

Menurut (Kemenkes, 2007) prevalensi Anemia penduduk dewasa perkotaan pada provinsi Sulawesi tengah menurut SK menkes yaitu 10,6 dan menurut Riskesdes 10,8.
·      Belum termasuk masalah kesehatan yang besar pada provinsi Sulawesi Tengah yang dimana prevalensi anemia tertinggi pada provinsi Sulawesi Tenggara.
5.        Makanan apa yang dianjurkan dan tidak dianjurkan pada wanita tersebut, bagaimana bentuk pencegahan lainnya agar wanita tersebut tidak anemia?
·         jenis makanan yang dianjurkan untuk dikonsumsi oleh penderita anemia. Seperti: Sayuran hijau seperti bayam, kangkung, dan seledri, Makanan yang mengandung zat besi, seperti: daging merah, kentang, kismis, dan tiram, Kacang almond, Hati, Beras merah, Ikan laut dan Buah-buahan, seperti: stroberi, aprikot, semangka, apel dan kismis
·         Jenis makanan yang harus dihindari atau tidak boleh dikonsumsi oleh penderita anemia. Seperti: Hindari konsumsi makanan yang mengandung gula berlebih, Hindari makanan dan minuman yang mengandung kafein, Hindari juga konsumsi alkohol dan minuman bersoda atau berkarbonasi dan Hindari konsumsi mie instan
Menurut (Tarwoto, 2010), upaya-upaya untuk mencegah anemia, antara lain sebagai berikut:
a.       Makan makanan yang mengandung zat besi dari bahan hewani (daging, ikan, ayam, hati, dan telur); dan dari bahan nabati (sayuran yang berwarna hijau tua, kacang-kacangan, dan tempe).
b.      Banyak makan makanan sumber vitamin c yang bermanfaat untuk meningkatkan penyerapan zat besi, misalnya: jambu, jeruk, tomat, dan nanas.
c.       Minum 1 tablet penambah darah setiap hari, khususnya saat mengalami haid.
d.      Bila merasakan adanya tanda dan gejala anemia, segera konsultasikan ke dokter untuk dicari penyebabnya dan diberikan pengobatan.
Menurut (Anie Kurniawan, 1998), mencegah anemia dengan:
a.       Makan-makanan yang banyak mengandung zat besi dari bahan makanan hewani (daging, ikan, ayam, hati, telur) dan bahan makanan nabati (sayuran berwarna hijau tua, kacang-kacangan, tempe).
b.      Makan sayur-sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung vitamin C (daun katuk, daun singkong, bayam, jambu, tomat, jeruk dan nanas) sangat bermanfaat untuk meningkatkan penyerapan zat besi dalam usus
c.       Menambah pemasukan zat besi kedalam tubuh dengan minum Tablet Tambah Darah (TTD)
6.        Bagaimana penanggulangan anemia pada wanita tersebut?
Upaya penaggulangan anemia gizi besi dengan fortifikasi zat besi dilakukan terhadap beberapa jenis bahan pangan. Fortifikasi besi lebih sulit dilakukan daripada fortifikasi vitamin A dan zat iodium karena sifat kimiawi zat besi yang beragam dan memerlukan penyesuaian dengan pangan yang akan difortifikasi. Bahan pangan yang akan difortifikasi harus memenuhi beberapa persyaratan diantaranya dihasilkan oleh pabrik tertentu, dikonsumsi oleh banyak orang termasuk kelompok sasaran, harga setelah difortifikasi terjangkau, rupa dan rasa tdak berubah, serta sesuai dengan sifat kimiawi zat fortifikan. Beberapa bahan pangan yang telah difortifikasi ialah tepung terigu dan garam (Soekirman, 2000) dikutip dalam (Sudargo et al., 2018)
Fortifikasi atau lengkapnya fortifikasi pangan atau pengayaan adalah proses penambahan mikronutrien (vitamin dan unsur renik esensial) pada makanan. Hal ini boleh jadi merupakan murni pilihan komersial untuk menyediakan nutrisi ekstra dalam makanan, sementara di saat yang sama terdapat kebijakan kesehatan masyarakat yang bertujuan mengurangi jumlah orang dengan gizi buruk dalam populasi. (Wikipedia)
Keuntungan fortifikasi besi ialah bahwa zat besi dapat mencapai sasaran untuk semua golongan umur. Penanggulangan anemia gizi besi yang terpenting ialah dengan memperhatikan pola makan, yaitu menerapkan pola makan yang baik  dan bergizi seimbang. Dalam memilih makanan sumber zat besi, selain memperhatikan jumlahnya yang terdapat dalam makanan,  juga memperhatikan daya serap dan nilai biologisnya. Daya serap dan nilai biologis makanan dipengaruhi oleh 4 hal, yaitu jumlah kandungan zat besi, bentuk kimia fisik zat besi, serta cara pengelohan makanan. (Soekirman, 2000) dikutip dalam (Sudargo et al., 2018)

DAFTAR PUSTAKA
Abdulsalam, M., & Daniel, A. (2002). Diagnosis, pengobatan dan pencegahan anemia defisiensi besi. Sari Pediatri, 4(2), 74–77.
Anie Kurniawan, D. (1998). Penyakit Anemia. Jakarta: PT. Total Grafika.
Bidasari, L., Rina, A. S., Gunadi, D., Nelly, R., & Elvi, A. (2008). Perbedaan Respon Hematologi dan Per­kem­ bangan Kognitif pada Anak Anemia Defisiensi Besi Usia Sekolah Dasar yang Mendapat Terapi Besi Satu Kali dan Tiga kali Sehari, 10(3).
Kasdu, D. (2004). Gizi Ibu Hamil Agar Bayi Cerdas. Jakarta: Bina Citra.
Kemenkes, R. (2007). Riset Kesehatan Dasar. Badan Penelitian Dan Pengembangan Kemenkes RI. Jakarta.
Kemenkes RI. (2013). Riset Kesehatan Dasar. Badan Penelitian Dan Pengembangan Kemenkes RI. Jakarta.
Nan, S., & Sicincin, A. (2011). PENGARUH PENGAWAS MINUM OBAT TABLET FE PADA IBU HAMIL YANG ANEMIA TERHADAP KENAIKAN HB DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PADANG LUAR KAB. AGAM 2012.
Riskesdes. (2013). Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013. Laporan Nasional 2013, 1–384. https://doi.org/1 Desember 2013
Sudargo, T., Kusmayanti, N. A., & Hidayati, N. L. H. (2018). Defisiensi Yodium, zat besi, dan Kecerdasan. (M. Hakimi, Ed.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Sulistyoningsih. (2011). Gizi Untuk Kesehatan Ibu dan Anak. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Tarwoto, D. (2010). Kesehatan Remaja problem dan solusinya. Jakarta: Salemba Medika.


Posting Komentar

0 Komentar